Siapa Sebenarnya Gilead Science, si Produsen Obat Covid-19? – CNBC Indonesia

thumbnail

Jakarta, CNBC IndonesiaGilead Science Inc, perusahaan biofarmasi pembuat obat remdesivir kabarnya akan bekerjasama dengan mitra internasional untuk memperluas produksi obat virus corona (Covid-19).

Perusahaan pun berharap bisa memproduksi 1 juta remdesivir pada Desember 2020. “Direncanakan untuk dapat menghasilkan beberapa juta pada 2021,” tulis Reuters mengutip Gilead, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (1/4/2020).

Di akhir Mei, Gilead berharap bisa memproduksi 140.000. Nantinya obat akan diberikan melalui infus rumah sakit. Sebelumnya, AS menegaskan remdesivir efektif secara klinis mengobati pasien corona. Remdesivir adalah antivirus untuk merawat pasien Ebola.
Dari uji klinis Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS, sekitar 31% pasien yang diberi remdesivir dengan dosis tertentu, bisa sembuh. Dalam uji coba dengan 1.063 pasien, pasien sembuh dalam 11 hari.

Ini lebih efektif dibanding obat lainnya seperti plasebo. Pasien memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh yakni 15 hari dengan obat tersebut.

Chief Executive Officer (CEO) Gilead Sciences Daniel O'Day,Foto: Chief Executive Officer (CEO) Gilead Sciences Daniel O’Day,
Chief Executive Officer (CEO) Gilead Sciences Daniel O’Day,


Chief Executive Officer
(CEO) Gilead Sciences Daniel O’Day, mengatakan perusahaannya sudah memiliki lebih dari 50.000 obat hasil eksperimental yang siap untuk didistribusikan begitu otoritas AS mengeluarkan izin untuk penggunaan darurat.

O’Day juga mengatakan perusahaan telah menjalin komunikasi yang konstan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, dan komunikasi ini telah meningkat intensitasnya dalam beberapa hari terakhir ketika hasil uji coba besar mulai keluar.

Gilead Sciences adalah perusahaan biofarmasi yang berbasis di Foster City, California, Amerika Serikat (AS) yang meneliti, mengembangkan dan mengkomersialkan obat-obatan. Perusahaan ini berfokus terutama pada obat antivirus yang digunakan dalam pengobatan HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan influenza, termasuk dua obat hepatitis C yakni Harvoni dan Sovaldi.

Mengacu situs resminya, perusahaan ini pertama kali tercatat di Bursa Nasdaq, AS, pada Januari 1992 dengan kode saham GILD. Harga sahamnya menguat 1,03% di level US$ 84/saham pada penutupan perdagangan Kamis waktu AS (30/4/2020) atau Jumat pagi waktu Indonesia.

Saat ini, data perusahaan mencatat, Gilead Science didukung lebih dari 11.000 karyawan. Kantor pusatnya berlokasi di 333 Lakeside Drive, Foster City, California, 94404. Foster City adalah kota yang terletak di San Mateo County, California. Gilead awalnya didirikan di Negara Bagian Delaware.


Bagaimana dengan kinerja perusahaan yang tercatat di Nasdaq ini?

Berdasarkan data laporan keuangan 2018, yang dikutip dalam program CNBC Exclusive, tayang Januari 2020, dari jumlah penjualan perusahaan, terbesar dari penjualan obat HIV sebesar US$ 14,6 miliar atau setara dengan Rp 226 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$), lalu obat hepatitis C senilai US$ 3,7 miliar (Rp 57 triliun) dan obat limfoma US$ 264 juta (Rp 4 triliun).

Sementara itu, obat dalam uji coba fase ketiga yakni HIV & AIDS, obat penyakit hati, corona, penyakit paru-paru, limfoma, colitis (radang usus besar), dan arthritis (radang sendi).

Laba bersih
Mengacu laporan keuangan perusahaan, total pendapatan untuk kuartal pertama 2020 sebesar US$ 5,5 miliar atau Rp 85 triliun, naik 5% dibandingkan periode yang sama di 2019.

Kinerja Gilead Q1 2020Foto: Kinerja Gilead Q1 2020
Kinerja Gilead Q1 2020

Laba bersih kuartal pertama 2020 sebesar US$ 1,6 miliar atau Rp 25 triliun, setara dengan US$ 1,22 per saham, turun 21% dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Laba bersih non-GAAP (generally accepted accounting principles )untuk kuartal pertama 2020 adalah US$ 2,1 miliar atau US$ 1,68 per saham, stagnan dari dari periode yang sama pada 2019.

Pada kuartal IV-2019, total pendapatan dicatatkan sebesar US$ 5,9 miliar dibandingkan dengan US$ 5,8 miliar untuk periode yang sama pada 2018. Sementara laba bersih di kuartal keempat 2019 yakni US$ 2,7 miliar, dari sebelumnya US$ 3 juta. Laba bersih non-GAAP yakni US$ 1,7 miliar, turun dari sebelumnya US$ 1,9 miliar.

Kinerja Gilead 2019Foto: Kinerja Gilead 2019
Kinerja Gilead 2019

Sepanjang 2019, total pendapatan Gilead menembus US$ 22,4 miliar atau Rp 347 triliun, dibandingkan dengan US$ 22,1 miliar untuk tahun 2018.

Total laba bersih 2019 adalah sebesar US$ 5,4 miliar atau Rp 84 triliun, turun tipis dari tahun 2018 yakni US$ 5,5 miliar. Sementara, laba bersih non-GAAP tahun 2019 adalah US$ 8,5 miliar, dari sebelumnya US$ 8,7 miliar.

“Kinerja Gilead selama kuartal pertama menunjukkan kemajuan kami yang berkelanjutan dan menyoroti kekuatan bisnis kami yang mendasarinya,” kata Daniel O ‘Day, dalam siaran pers, dikutip CNBC Indonesia.

“Fokus kami saat ini adalah pada pekerjaan kami dengan remdesivir dan komitmen berkelanjutan kami kepada orang-orang yang bergantung pada obat-obatan kami hari ini,” tegasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)


Back To Top