Wabah Virus Corona, Harga Masker Naik hingga Lima Kali Lipat – Katadata.co.id

thumbnail

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan darurat kesehatan global atas merebaknya wabah virus corona (2019-nCov). Hal ini menyebabkan kekhawatiran masyarakat meningkat. Dalam sebulan terakhir, permintaan masker dan suplemen kesehatan untuk meningkatkan imunitas melonjak signifikan.

Masker N95 atau masker respirator yang mampu menyaring udara hingga 95% disebut paling efektif untuk mencegah penyebaran virus corona. Berdasarkan pantauan Katadata di sejumlah situs belanja daring (e-commerce), harga masker N95 yang normalnya Rp 20 ribu per helai dijual dengan harga berkali-kali lipat.

Di situs Tokopedia misalnya, harga satuan masker N95 dijual seharga Rp 75 ribu. Sementara itu, di Shopee juga terlihat toko online yang memanfaatkan keadaan dengan mematok harga yang lebih tinggi dari biasanya. Harga satuan masker N95 di e-commerce tersebut bahkan ada yang mencapai Rp 95 ribu. Di Bukalapak, Lazada, dan Blibli harganya mencapai Rp 2 juta per dus yang berisi 20 helai masker.

Kenaikan harga masker pun terjadi di beberapa apotek di bilangan Jakarta. Idris, seorang petugas di salah satu apotek di Jakarta Selatan, mengatakan permintaan masker N95 meningkat sejak wabah virus corona berkembang. “Ada kenaikan signifikan, hampir 3-4 kali lipat,” ujarnya kepada Katadata, Jumat (31/1).

Hal ini berimbas pada kenaikan harga sebanyak dua kali lipat dari biasanya, yakni dari harga normal Rp 22.500 per helai menjadi Rp 54 ribu per helai. “Dari supplier naik, otomatis kita juga naik,” ujar Idris. Adapun harga untuk satu dus masker N95 menjadi Rp 1,08 juta. Namun, kata Idris, belum banyak masyarakat yang mencari masker N95. Mayoritas masyarakat membeli masker bedah.

(Baca: Wabah Corona Merebak, Kemenkes Periksa 19 Pasien Hingga 30 Januari)

Hal yang sama terjadi di dua apotek lainnya. Dalam tempo kurang dari satu bulan, permintaan masker bahkan mencapai lebih dari 10 kali lipat dari sebelumnya. Namun, kedua toko tersebut tidak banyak menyediakan masker N95. Karena itu, masker bedah masih menjadi produk yang paling laku. “Karena tidak tersedia (masker N95), ujung-ujungnya mereka beli masker biasa,” ujar salah satu karyawan apotek yang menolak disebutkan namanya.

Secara umum, ada dua tipe masker yang umum digunakan oleh masyarakat, yakni masker bedah dan masker N95. Perbedaan kedua masker tersebut didasarkan oleh penerapan partikel yang bisa diserap oleh masker. Masker N95 menyerap partikel dengan ukuran yang lebih kecil dan lebih banyak hingga mencapai 95%.

Sebagai informasi, masker N95 didesain dengan dua tali yang dilas di bagian kainnya dan terdapat bantalan busa di dalamnya. Masker ini juga dilengkapi dengan nose clip yang dapat dirapatkan dengan bentuk tulang hidung untuk menutup celah antara hidung dan masker agar debu tidak masuk.

(Baca: Wabah Virus Corona, KBRI Beijing Imbau WNI Tinggalkan Tiongkok)

Permintaan Suplemen Penambah Imunitas

Selain masker, ada kenaikan permintaan terhadap produk suplemen penambah imunitas, seperti vitamin Imboost dan hand sanitizer. Namun, harga kedua produk tersebut masih terbilang normal.

Imbauan untuk menggunakan masker saat beraktivitas di ruang publik terus digaungkan guna mengantisipasi penyebaran dan penularan virus corona di masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan dengan sering-sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kontak dengan orang yang sakit, dan menghindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar.

(Baca: Waspada Virus Corona, Ini Langkah Pencegahannya)

Gejala umum infeksi virus corona ditunjukkan dengan demam, batuk, dan sesak napas. Virus corona dapat menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang. Namun, pada komplikasi yang serius, infeksi virus ini dapat menyebabkan pneumonia, infeksi sekunder pada organ lain, gagal ginjal, hingga kematian.

Penulis: Destya Galuh Ramadhani (Magang)

Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.

Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi

Back To Top